daun

Jumat, 20 April 2012

Perhelatan Rasa

share


Sahabat yg Selalu di Hati
Terurai, 21 April 2012

Tidak salah bukan bila aku menyukai seseorang. Orang ini entah kenapa selalu ada di benakku. Entah siang ataupun malam bahkan sore hari, selalu saja dia terngiang dalam lantunan ingatan terkuatku.
Sering aku memimpikannya. Anehkan? Pertanda apa sebenarnya ini? Apa karena aku benar-benar sayang dengannya. Rasa suka ini seperti telah meracuniku, membawaku menjadi seorang pencinta yang tak terucap. Hanya terbayang dalam mimpi-mimpi senja yang tersirat.
Awal kali masuk kuliah, sedikit pun tak terlintas di kepalaku tentang seorang gadis. Bahkan tak terpikir untuk berpacaran. Kau tahu kenapa, karena waktu itu aku sendiri masih punya.
SEMSTER I yang terpikir aolehku adalah aku ingin menyesuaikan diri dengan perkuliahan ini yang kurasa begitu sepele. Waktu itu aku masih bersikeras untuk keluar dari undip, ingin rasanya aku mengambil kuliah di jurusan lain bahkan universitas lain yang memang terasa lebih menunjang masa depan.
Bahkan saat pendaftaran mahasiswa baru, aku langsung mendaftar di universitas lain. Blablablabla………………….
Itu sepintas keegoisan.
Di awal kuliah ini tak ada satu pun gadis yang kusukai, satupun. Tapi setelah berjalannya waktu di hampir mendekati pertengahan kuliah. Kutemukan sebuah awal baru dari pertemanan yang tak pernah kuharapkan sebelumnya.
Pertemuan ini benar-benar seperti sebuah, apalah namanya, q gak tahu. Dia, gadis ini aku tak pernah tahu bahwa ia ada. Aku tak tahu bahwa dia juga sekelas denganku. seolah aku tak pernah memandangnya.
Diawali dari pertemuan di perpustakaan yang terasa janggal. Dan diawali dari ia bergelayut di pundakku yang terasa tanpa sebab.
Tanpa sebab, kubilang begitu karena kami memang tak pernah bicara satu sama lain. bahkan dikelas, sekalipun aku tak pernah menganggapnya ada, karena seolah aku tak pernah melihatnya meski di dalam kelasku sendiri.
Waktu itu kuliah telah usai, saat aku keluar, ia bersama kedua temannya tengah berbincang mungkin. Tiba-tiba ia datang mendekat dengan senyum dan suaranya yang unik, ia langsung bergelayut di pundakku seolah ia sudah kenal dan dekat denganku. aku pun waktu itu bingung harus bagaimana. So, aku ikuti saja candaan mereka.
Tapi disinilah awal dari semuanya. Malam harinya aku jadi kepikiran tentangnya. Gadis berkulit kuning langsat dengan rambut hitam lebam yang indah. Matanya bulat lucu. Adu adu… malam itu menjadi malam galau pertamaku karena sesuatu di kampus.
Saat itulah aku mulai mencari nomor hanphonnya dan tiap hari kami mulai sms-an. Selalu dan selalu hingga ia mengannggapku sahabat.
Meski waktu itu aku masih punya seorang gadis, ia kuliah di Unsut. Tapi aku tak pernah bercerita dengannya. Aku ingin ini menjadi sebuah hubungan pribadi di semarang.
Waktu berlalu kedekatan itu semakin menjadi-jadi. Rasaku ini mulai kental dengan dirinya. Tapi aku tak mau mengatakannya. Rasa sayang ini, aku tak ingin merusaknya dengan penghianatan. Aku masih punya. Kalau dia? Entahlah.
Karena itu aku akan menjaganya sebagai cukup seorang sahabat yang peduli dengannya.
Berlalu hingga semester dua, rasaku ini tetap tertancap sebagai sahabat. Entah kenapa sedikitpun tak memudar.
Gejolak rasa di unsut mulai terasa. Akhirnya kami putus. Saat memasuki semester tiga, aku sibiuk dengan kegiatan di hayamwuruk. Kedekatan dengan sahabatku ini pun malah memudar. Entah kenapa rasa canggung hadir dan seolah aku tak ingin memilikinya. Apa mungkin karena aku putus, hingga membuat rasaku ini kacau.
Satu semester terlewat. Kini di semester empat aku mulai mencoba mengembalikan suasana. Ternyata hatiku tetap kepadanya. Rasa ini, ingin melebihi sahabat.
Tapi kenapa begitu sulit, kedekatan ini sudah tak seperti dulu lagi.
Satu hari pernah berlalu bersamanya (waktu itu malam dan paginya aku bersama, meski hanya beberapa jam) tapi yang anehnya, satu minggu aku terus memikirkannya. Wau…..
Sekarang kubiarkan angin berhembus. Kuingin rasa ini memuncak. Hadir dalam peraturan yang kan semakin mengikat. Hanya tinggal melihat situasi yang memungkinkan. Semoga indah kelak sebagai yang terbaik.

Kebingungan Tanpa Banding

share


Kebingungan Tanpa Banding
Terurai, 21 April 2012
“sedikit kisah saja,” waktu itu adalah waktu perpisahan, aku dan dia telah diterima di universitas negri yang berbeda lokasi, bahkan jauh. Gadis ini adalah pertemuan yang unik. Membuatku selalu ingat dengan seringai manisnya. Kedekatan kami semakin mengikat sebuah rasa baru yang unik di sebuah tempat les. Tak kusangka ternyata ia juga les ditempat lesku. Kami berbeda SMA memang. Tapi disinilah letak yang kusukai.
Sejak itulah kami pun semakin dekat, ia menganggapku sahabat, tapi aku ingin lebih, benar-benar ingin lebih, ingin menyayanginya sepenuhnya.
Tapi apa, ia menolakku. Seolah ia hanya ingin bersamaku sebagai sahabat. Whay so complicated? Hal inilah yang memisahkan kami, sejak itu ia tak pernah lagi mau menemuiku ataupun bicara denganku. ia benar-benar menjauh dariku tanpa alasan yang membuatku puas.
Kedekatan yang menjadikan kami sahabat itu telah pudar. Lenyap, hingga lulus pun ia tak mau mendekatiku. Apa-apaan ini, berulang kali aku mencoba mendekatinya hanya sekedar untuk penjelasan pun ia menghindar. Ini membuatku menciut, kau anggap apa aku waktu itu.
Waktu berlalu, pasang surut kuabaikan. Saat mendekati ujian nasional, kau mulai bicara denganku. itu sudah terlambat kauwand. Terserah kau bicara apa, minta maaf pun aku tak peduli. Lebih baik kau menjauh, hanya galau yang kau beri padaku.

SMA. Sebuah warna rasa yang terlintas dalam alunan melodi nuansa manis. Meski sahabat beda sekolah telah menghilang karena ulah bodohku itu, aku masih tetap menjalin sebuauh ikatan dengan seorang gadis.
Tidakan bodoh ya…? Apa mungkin dia tahu bila waktu itu aku masih punya. Selidik demi selidik terkuak lah bauh durian yang berduri. Ternyata teman satu les denganku yang membocorkan ini.
Sialan. Sebenarnya aku tak ingin main-main dengan sahabatku ini. aku benar-benar sayang dengannya. Ta aku juga benar-benar sayang dengan gadis yang kumiliki waktu itu. mungkin dia berpikir aku akan main-main dan tak serius. Bahkan mungkin aku dibilang playboy. Bego. Aku ini bukan seperti itu. sebuah rasa hanya akan terucap untuk orang yang benar2 kusayangi. Begitulah aku.
Tapi yasudahlah, masalah telah berlalu. Karena ia merasa bersalah telah mengacuhkanku. Ia pun mendatangiku, ia pertanyakan semuanya. Syukurnya lagi setelah ujian nasional itu aku telah putus. Seolah ini memberinya sebuah senyum di hati. Ia memberikukesempatan untuk kembali dekat dengannya. Asssik.
Bulan berlalu hingga mendekati pengumuman kelulusan. Saat itulah kuutarakan rasaku dan ia menerimanya. Senyumnya selalu kuingingat hingga sekarang.
Kisah dengannya pun terlampir hingga kami kuliah.
Haish…
Capek cerita kayak gini.
Blablablabla…
Kita jadian hampir satu tahun dan akhirnya kami putus tepat saat aku dipertengahan semester dua kayaknya.